Usiaku belumlah 30 tahun ketika istriku melahirkan anak pertamaku, aku tidak pernah memprhatikan istriku, stiap malam aku habiskan waktuku bersama kawan2ku begadang smpai pagi.  Stiap malam kami habiskan waktu dgn tawa dan banyolan2 haram.

Aku ingat suatu malam aku berlaku usil kpd seorg buta yg sdg berjalan di pasar, aku menaruh kakiku di depannya lalu ia trsandung dan jatuh, keusilanku itu mnjadi bahan tertawaan yg memenuhi pasar.  Sperti biasanya aku telat pulang ke rumah, aku melihat istriku mnunggu, tampak kletihan di wajahnya, dgn air mata yg meleleh dia berkata ‘Rasyid..! Aku lelah sekali, spertinya waktu melahirkan sdah hampir tiba’ aku baru sadar bhw kehamilan istriku telah mncapai bulan ke 9, aku membawanya ke Rumah Sakit.  Istriku berperang melawat rasa sakit, selang bbrapa jam kmudian lahirlah anakku yg diberi nama ‘Salim’.

Ketika aku akan melihat anakku aku diminta utk mnghadap dokter yg mngurus proses persalinan istriku.  Dokter itu membritahukan kpdku ttg musibah yg trjadi dan mnyuruhku rela trhdap takdir “Anak anda mngalami cacat yg parah di kedua matanya dan tampaknya dia tidak bisa melihat” aku mnundukkan kepalaku, dunia ini terasa runtuh, yg trbersit di ingatanku adalah org buta yg aku jegal kakinya dan mnjadi bahan tertawaan org2 di pasar, Maha Suci Allah, siapa yg mnanam pasti akan menuai.

Hari terus berlalu, istriku yg sabar dan prcaya trhdap takdir Allah memelihara Salim dgn kasih sayang dan telaten sedangkan aku tidak terlalu memprhatikan Salim, aku m’nggapnya tidak pernah ada di rumah.  Salim smakin hari smakin bertambah besar, ketika usianya mnginjak satu tahun, dia mulai belajar brjalan, namun agak sdikit aneh akhirnya kami tahu ternyata dia juga pincang, dadaku makin bertambah sesak.

Waktu terus berlalu, istriku telah melahirkan anakku yg ke 2 ‘Umar’ dan yg ke 3 ‘Khalid’ besarlah Salim dan kedua saudaranya, smntara aku belum berubah, aku tidak suka berdiam di rumah, hari2 kulalui bersama kawan2ku, istriku tidak pernah putus asa mluruskanku dia snantiasa berdoa agar aku mndptkan hidayah, dia tidak pernah marah melihat klakuan burukku akan tetapi dia sering terlihat sedih melihatku menyia2kan Salim dan lebih peduli trhdap kedua saudaranya, istriku mnyekolahkan Salim ke salah satu skolah khusus org cacat (SLB).

Pd suatu hari Jumat aku trbangun pd jam 11 siang, hari masih trlalu pagi bagiku, aku diundang ke sbuah resepsi, aku mandi, ganti baju, memakai parfum dan siap pergi, aku mlewati ruang tamu, aku trhenti ketika melihat Salim mnangis dgn keras, ini pertama kali aku merespon tangisan Salim stelah kurang lebih 10 tahun aku tidak mempdulikannya, aku berusaha pura2 tidak tahu tetapi tidak bisa, aku mndekatinya “Salim knapa kamu mnangis?” tanyaku.  Ketika mndengar suaraku dia brhenti mnangis dan meraba2 skelilingnya dia berusaha mnjauh dariku seakan2 dia brkata kpdku “Skrang kamu peduli kpdku, kmana kamu slama sepuluh tahun ini”.

Aku membuntuti masuk ke kamarnya, awalnya dia menolak memberitahukan kpdku knapa dia mnangis, aku berusaha berlaku lembut kpdnya, akhirnya Salim mau juga mjelaskan kpdku mngapa dia menangis, Salim mngatakan bhw hari ini Umar trlmbat dtang utk mngantarkannya ke Masjid dan hari ini adalah hari Jumat dia khawatir tidak mndpatkan tempat di barisan pertama, aku mulai memandangi air mata yg jatuh dari kedua matanya yg buta dan aku trguncang saat itu.

Aku tidak mampu menguasai diriku utk mndengarkan sisa kalimatnya, aku mletakkan tanganku di mulutnya, aku lupa teman2ku, aku lupa ttg udangan resepsi dan aku brkata, “Salim jangan sedih, tahukah kamu siapa yg akan pergi bersamamu ke masjid hari ini?” “sdah pasti Umar akan tetapi dia telat hari ini” ujar Salim dgn sedih. “Tidak, aku yg akan pergi bersamamu” hiburku. Salim kaget tidak percaya dia mngira aku mngejeknya lalu dia mnangis lagi. Kuusap air matanya dgn tanganku. Aku ingin mngantarkannya dgn mobil akan tetapi dia menolaknya “Masjidnya dekat, aku ingin jalan kaki ke sana,” tandasnya.

Aku berjalan di sisinya, aku merasa betapa kecilnya diriku dan betapa besarnya dosaku, aku tak ingat lagi kapan aku terakhir masuk masjid, aku merasa takut dan mnyesali apa yg aku lalaikan bbrapa tahun ini. Hari itu, masjid penuh dngn jamaah, akan tetapi aku heran melihat ada tempat kosong di barisan pertama yg khusus disiapkan utk Salim.

Stelah shalat slesai, Salim meminta mushaf Al-Qur’an kpdku, aku mrasa aneh bagaimana dia akan membaca pdhal dia buta? takut perasaannya terluka aku mngambilkan mushaf utknya. Dia memintaku membukakan surah Al-Kahfi, aku mulai membolak-balik mushaf sambil sesekali melihat daftar isi, sampai aku mnemukannya dan mletakkan mushaf di depannya. Dia mulai membaca surah Al-Kahfi dgn mata terpejam.

Ya..! Allah..! dia hafal surah Al-Kahfi dgn lengkap, aku mrasa malu, sluruh sendi2ku serasa brgetar, aku berdoa kpd Allah smoga dia mngampuniku dan memberiku hidayah, aku tidk mampu mngusai diriku, aku mnangis sperti anak kecil, aku mncoba mnymbunyikan tangisku tetapi tidak bisa malah aku mnjadi terisak-isak, aku tidak sadar sampai tangan2 kecil mnyentuh wajahku dan mngusap air mataku, dia adalah Salim anakku. Aku memeluknya dan memandangnya, hatiku brgumam “Bukan kamu yg buta sbaliknya akulah yg buta, tatkala aku terlena mngikuti kawanku yg mnjrumuskan aku ke Neraka”. Kami pulang ke rumah, Istriku gelisah memikirkan Salim, tetapi kgelisahannya itu berganti dgn air mata ketika dia tahu aku shalat Jumat bersama Salim.

Sejak saat itu aku tidak pernah ktinggalan shalat berjamaah di masjid, aku mninggalkan kawan2 bajinganku dan skrang aku mempunyai banyak teman baik yg aku kenal di masjid, aku mulai mrasakan manisnya iman brsama mreka. Aku slalu membasahi lidahku dgn zikir, dgn pngharapan smoga Allah mngampuni dosa2ku slama ini, aku brtambah dekat dgn keluargaku, senyum tidak pernah lepas dari keelokan wajah anakku Salim, siapa yg mnyangka bhw dia memiliki dunia dgn sgala isinya, aku memuji Allah atas sgala nikmat-Nya.

Suatu hari, teman2ku di masjid bertekad pergi ke salah satu daerah yg jauh utk brdakwah, aku beristikharah kpd Allah dan berunding dgn istriku dan dia sngat senang, tak lupa aku membritahukan kpd Salim anakku akan hal ini dan dia memeluk aku dgn lengannya yg kecil, sbg salam perpisahan.  Aku pergi dari rumah selama tiga bulan stengah, slama itu stiap ada ksmpatan aku selalu mnghubungi istri dan anak2ku utk mngobati krinduan trhdap keluargaku, terutama kpd Salim, aku berharap bisa mendengar suaranya, sebab dialah satu2nya anakku yg tidak berbicara kpdku sejak kpergianku, tiap kali aku mnceriterakan krinduan trhdap Salim kpd istriku dia selalu tertawa bahagia, hanya saja kali terakhir aku menelpon istriku aku tidak mndengar tawa sperti biasanya, suaranya berubah, ketika aku berkata “sampaikan salamku kpd Salim” dia hanya menjawab “Insya Allah” dan diam.

Akhirnya aku pulang ke rumah, aku mngetuk pintu dan berharap Salim yg akan membukakan pintu utkku, trnyata bukan Salim melainkan anakku Khalid yg usianya tidak lebih dari empat tahun, dia berteriak “Ayah… Ayah..!” aku tidak tahu mengapa tiba2 dadaku terasa sesak saat masuk ke dlm rumah aku membaca ta’awuz, meminta perlindungan Allah, istriku datang mnjumpaiku, raut wajahnya tidak sperti biasanya, “Apa yg terjadi?” tanyaku kmudian, “Tidak ada apa-apa” jawabnya singkat, sketika aku teringat Salim “Mana Salim?” istriku tidak mnjawab dia mnundukkan wajahnya dan air mata bercucuran membasahi pipinya, saat bersamaan dengan suara terbata2 Khalid berkata, “Ayah, Salim telah kembali menghadapNYA” istriku tidak bisa menguasai situasi, dia mnangis mratap dan hampir terjatuh ke tanah, akhirnya aku tahu Salim trkena demam dua minggu sbelum kepulanganku, istriku membawanya ke rumah sakit namun tidak tertolong hingga nyawanya mlayang.

Aku mnyadari bhw apa yg trjadi adalah ujian Allah, aku harus mnerima smua ini, memuji Allah dan aku tidak pernah memuji Allah trhdap ksulitan yg kuhadapi kcuali trhdap kjadian ini.  Alangkah sedih hatiku berpisah dgn Salim, masih terasa tangannya mngusap air mataku dan kedua lengannya merangkulku. Salim tidak buta, akulah yg buta saat terlena bersama teman2ku dan Salim tidak pincang krn dia mampu melalui jalan keimanan, skrang aku baru sadar bhw aku menyayanginya melebihi saudara2nya, krn dialah yg mnjadi penyebab aku mndpatkan petunjuk. Dia anak buta yg menuntun ayahnya ke masjid dan mengalahkan setan dlm diriku dgn keikhlasannya.

Ya Allah.., terimalah Salim dlm naungan kasih sayang-Mu. Ya Allah.. aku memohon kpd-Mu keteguhan hati smpai mati. Ya Allah kumpulkanlah aku bersamanya di surga-Mu dan ampunilah aku, Engkau zat yg Maha Suci.

“Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yg melampaui batas terhadap diri mereka sendiri ! janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa2 semuanya. Sungguh Dialah yg maha pengampun, Maha Penyayang'”. (Az-Zumar [39] : 53)

Advertisements