SPREADING POSITIVE ENERGY IN THE WORKPLACE
(Menyebarkan energi positive di tempat kerja).

Di tempat kerja saya yang dulu ada seorang karyawati bernama Nirmala. Dia seorang karyawati yang cerdas dan perform sangat baik. Sayangnya suka uring-uringan dan pasang muka sepak. Dan tentu saja hal ini membuat yang lain males berhubungan dengannya. Padahal performance nya sangat bagus dan bossnya sangay sayang kepadanya. Tetapi dia suka marah-marah, uring-uringan dan kalau bekerja under pressure suka pasang muka cemberut.

Teman-temannya takut dan nggak bisa ngapa-ngapain.
Akibatnya Nirmala pun tidak mendapatkan support yang dia  butuhkan.
Pekerjaan yang secara individual bisa diselesaikan akan selesai dengan rapi.
Yang memerlukan bantuan yang lain terpaksa delay atau tidak complete.
Lama lama teman temannya sudah banyak yang dipromisi melampaui level Nirmala sementara level Nirmala seperti jalan di tempat selama 6 tahun terakhir ini.

Saya punya teman satu lagi bernama Puspita. Bekerja sebagai HR Manager di sebuah perusahaan Amerika. Dan meskipun tanggung jawabnya banyak, dia sibuk, dan harus kadang kadang pulang malam, dan  masih harus mengurusi kedua anaknya, dan mengantar-antar orang tuanya pada week end, Puspita tetap ceria, murah senyum dan menyapa semua orang dengan ramah, dan suka menolong teman-temannya.
She spreads the positive energy all over the work place. Dan memang ternyata karier Puspita berkembang pesat, bahkan dia masuk di daftar High Potential di perusahaannya. Padahal hanya very selective people yang dimasukkan ke program itu.

Saya rasa kita semua mengenal banyak Nirmala dan juga beberapa Puspita di tempat kerja.
Ada yang uring uringan terus… dan ada yang tersenyum ceria terus.
Does it mean ada yang punya masalah dan ada yang tidak punya masalah?
No way! Semua orang hidup (dan bekerja) pasti punya banyak masalah.
Ada yang bisa meng handle dan memanage dengan baik (dan menyimpannya untuk diri sendiri).  Ada yang tidak mampu (dan menyebarkan masalah dan uring-uringannya ke orang lain).

Kalau kita bertemu dengan orang orang seperti Nirmala, setelah itu seolah-olah energy kita habis, ada yang menyebutnya energy drainer.
Bagaimana nggak habis kalau tiap kali bertemu tampangnya uring-uringan dan mukanya sepak begitu.

Tetapi kadang-kadang kita juga bertemu dengan orang-orang seperti Puspita. Da  setelah itu kita seperti naik energy level kita ( energy charger).

Dan kita sering kan mengenali orang orang seperti itu.
Ada yang kalau kita bertemu mereka setengah jam setelah itu kita seperti terasa fresh dan mendapatkan energy.
Tetapi ada juga yang baru bertemun15 menit aja, serasa kita mau marah marah juga dan capek mentally.

The question is … are you an energy drainer or an energy charger?

Mungkin terasa sepele pada awalnya, mungkin ada yang merasa suka-suka daya, muka-muka saya, tampang-tampang gua. Mau cemberut kek, mau senyum kek, mau menyebarkan energy positif kek, itu kan hak-hak saya.
I fully agree. That’s your prerogative right.

However …..
di tempat kerja itu kan kita nggak sendirian … You need to work with others, you need to get help from others and you need the support and cooperation from others.
Kan kita nggak kerja sendirian.
Kalau tiap kali cemberut aja , ya jangan complain kalau temen-temen anda malas berurusan (dan membantu) anda.

Akibatnya pekerjaan anda akan sering tidak complete atau delay, dan lama lama mempengaruhi performance (dan promosi) kita.

And when that happen, satu satu nya yang bisa di blame adalah orang yang berdiri di depan cermin tadi pagi (diri anda sendiri!).

Now I hope you understand how important is to spread positive energy to others ….

Dan saya pun penasaran dan tertarik dengan teman saya, Puspita. Bagaimana dia bisa terus menerus spread positive energy to others.

Dan saya pun bertanya bagaimana dia (dengan segala macam permasalahan hidup yang juga dia punyai) masih mampu tersenyum cerah dan ceria sepanjang hari.

Puspita mengibaskan rambut panjangnya yang legam dan tersenyum lebar …. memulai ceritanya.

“I tried to share the happiness and hide my sadness”

Semua orang punya masalah dan kebahagiaan. Kalau kita sharing masalah ternyata kita akan menambah masalah. Kalau kita share happiness ternyata juga menambah kebahagiaan kita sendiri.

Jadi buat apa sharing kesedihan dan masalah kita ke orang lain?

Semua orang punya masalah di rumah … but is it fair to share to everybody in our office about our mood?
They have nothing to do with ghe problem that you have.
Why should the face the consequence of your problem?

Saya memilih untuk menyimpan masalah saya … dan share my happiness to others ….

Ternyata dengan sharing happiness to others I increased my own happiness.

Wow … that’s great. Thanks for sharing this, Puspita.

Terus saya bertanya,”Kalau sedihnya sedih berat atau marahnya marah berat, memang masih bisa menahan atau menyimpannya sendiri?”

“I have also my own problem. A lot. Who is alive and does not have problem. Saya memilih untuk menyimpan masalah itu untuk saya sendiri.
Tetapi kalau saya benar-benar tidak bisa menahannya sendiri lagi, saya akan meminta bantuan ke orang orang terdekat yang saya percaya.
Atau kalau memang perlu, saya akan mencari profesional help. Psikolog, psikiater atau dokter.
Yang penting adalah mengetahui limit kita sendiri.
Ada juga teman saya yang berusaha menyimpan semuanya sendir. Kelihatan tegar di luar. Tetapi ternyata kemudian sakit, karena sebenarnya her mind cannot take it anymore.
Make sure you understand your limit …”

Tapi intinya, choose carefully the people who can understand your problem and frustrations, dont show to anybody (or everybody) in the work place ….

Jangan menunjukkan kepada semua orang.
Maksudnya kalau anda lagi  banyak masalah nggak usah uring-uringan atau marah-marah ke semua orang di kantor.

Because…
Seperti Puspita bilang …. Share your happiness and hide your sadness.

Terus… bagaimana dong untuk spread the positive energy di tempat kerja?
(Dan ini  berlaku untuk leader maupun semua employees):

1. START WITH THE POSITIVE THINKING

Try to look at everything from positive side. Sejelek apapun seseorang pasti ada positive nya yang bisa kita pelajari dari dia.
Jadi… hindari ngomong,”Dia memang pintar tetapi sombong ….”
Lain kali ucapkan ,”Dia memang pintar, dan saya akan belajar tentang hal ini ke dia ” (sambil mengamati dan mendengarkan dia)

2. IDENTIFY THE POSITIVE SIDE OF YOUR FRIEND

Coba perhatikan siapa saja teman teman terdekat anda. Catat 3 hal positive tentang mereka.
Forget the negative things about them.

3. TELL YOUR FRIENDS WHY YOU LIKE/APPRECIATE THEM

Jangan malu-malu, bilang saja apa yang positive tentang teman anda.
Kan kita bisa saling belajar satu dengan yang lain dari hal hal positive yang dimiliki kedua belas pihak.

4. GIVE THEM FULL ATTENTION

Anda akan menyebarkan energy positive dengan memberikan mereka perhatian penuh. Look at them, listen to them, show you like them, show you care about them.

5. MAKE THEM SMILLE

Sebarkan energy positive dengan membuat mereka tersenyum (atau tertawa)..

Energy positive yang timbul dari senyuman teman anda akan kembali ke tubuh anda menyebarkan enery positive untuk smile anda yang lebih besar dan berseri-seri lagi.

Kita coba yuuuuuk….

Warm Regards

Pambudi Sunarsihanto

Advertisements