Khoirul Anwar anak desa dari Indonesia dianggap gila. Idenya dianggap tak masuk akal, ditolak Ilmuwan Jepang dan Australia.

Idenya mengenai power/ catu daya pada Wi-Fi.

Ide itu tidak dianggap pada tahun 2005. Karena Banyak ilmuwan beranggapan, jika FFT dipasangkan, keduanya akan saling menghilangkan.

Tapi Anwar tetap yakin, kemudian terbang ke Amerika Serikat. Memaparkan ide yang sama ke para ilmuwan Paman Sam.

Di Amerika, Anwar mendapat sambutan luar biasa. Ide yang dianggap dagelan itu bahkan mendapat paten. Diberi nama Transmitter and Receiver. Dunia menyebutnya 4G LTE. Fourth Generation Long Term Evolution.

Yang lebih mencengangkan lagi, pada 2008 ide yang dianggap gila ini dijadikan sebagai standar telekomunikasi oleh International Telecommunication Union (ITU), sebuah organisasi internasional yang berbasis di Genewa, Swiss. Standar itu mengacu prinsip kerja Anwar.

Dua tahun kemudian, temuan itu diterapkan pada satelit. Kini dinikmati umat manusia di muka Bumi. Dengan alat ini, komunikasi menjadi lebih stabil.

*

Ya, karya besar ini lahir dari orang desa. Anwar lahir di Kediri, Jawa Timur, pada 22 Agustus 1978. Dia bukan dari kalangan ningrat. Atau pula juragan kaya. Melainkan dari kalangan jelata.
.
Sang ayah, Sudjiarto, hanya buruh tani. Begitu pula sang bunda, Siti Patmi. Keluarga ini menyambung hidup dengan menggarap sawah tetangga mereka di Dusun Jabon, Desa Juwet, Kecamatan Kunjang.
.
Saat masih kecil, Anwar terbiasa ngarit. Mencari rumput untuk pakan ternak saban hari. Setiap sepulang sekolah.

Cita-cita tersebut hampir saja musnah. Saat sang ayah meninggal pada tahun 1990, kala itu Anwar baru saja menapak sekolah dasar

Anwar memberanikan diri, mengungkapkan keinginan bersekolah setinggi mungkin kepada sang ibu.
.
Anwar menyiapkan diri. Sudah siap apabila sang emak menyatakan tidak sanggup. Tapi jawaban yang dia dengar di luar dugaan. Bu Patmi malah mendorongnya untuk bersekolah setinggi mungkin.
.
“Nak, kamu tidak usah ke sawah lagi. Kamu saya sekolahkan setinggi-tingginya sampai tidak ada lagi sekolah yang tinggi di dunia ini,” ucap Anwar terbata, karena tak kuasa menahan haru saat mengingat perkataan emaknya itu.
.
Perkataan itu menjadi bekal Anwar untuk melanjutkan langkah meraih mimpi. Lulus SD, dia diterima di Sekolah Menengah Pertama (SMP) 1 Kunjang. Kemudian dia meneruskan ke Sekolah Menengah Atas (SMA) 2 Kediri. Salah satu sekolah favorit di Kota Tahu itu.
.
Lulus dari SMA 2 Kediri, Anwar lalu melanjutkan pendidikan ke Institut Teknologi Bandung (ITB). Dia diterima sebagai mahasiswa Jurusan Teknik Elektro dan ditetapkan sebagai lulusan terbaik pada 2000. Dia kemudian mengincar beasiswa dari Panasonic dan ingin melanjutkan ke jenjang magister di sebuah universitas di Tokyo.
.
Sayangnya, Anwar tidak lolos seleksi universitas tersebut. Dia merasa malu dan tidak ingin dipulangkan. Alhasil, dia memutuskan beralih ke Nara Institute of Science and Technology NAIST dan diterima.

Tahun 2005 anak desa yg dianggap gila ini mulai mempresentasikan ide CAtu daya WI-Fi 4G LTE kepada dunia.

2008 menjadi momen bersejarah bagi dunia.

Sejak dulu zaman sebelum Masehi hingga zaman millenium ini, selalu saja orang yang dianggap gila yang berhasil dan bermanfaat bagi dunia

Advertisements