Seorang  Pujangga pulang dari memotong kayu di gunung,
diperjalanan pulang berjumpa seorang pemuda bernama Ahmad yg baru saja menangkap seekor kupu di genggamannya..

Pemuda ini menantang pujangga:
“Hei pujangga,
gimana kalau kita bertaruh?”

“Gimana bertaruhnya?” tanya sang Pujangga.

“Coba tebak kupu dalam genggamanku ini hidup atau mati?
Kalau kamu kalah,
sepikul kayu itu jadi milik saya” jawab Ahmad sang pemuda..
Sang Pujangga setuju,
lalu menebak,
“Kupu2 dalam genggamanmu itu mati.”

Ahmad Sang pemuda ketawa ngakak, “kamu salah.” Sambil membuka genggamnya,
kupu2 itupun terbang pergi.

Sang Pujangga berkata, “baiklah, kayu ini milikmu.
“Setelah itu sang Pujangga menaruh pikulan kayunya dan pergi dengan gembira.
Ahmad tidak mengerti kenapa sang Pujangga begitu gembira, tapi mendapat sepikul kayu bakar, dia dengan gembira juga membawanya pulang.

Ayah si pemuda bertanya soal asal muasal sepikul kayu itu. Ahmad bercerita sesungguhnya.
Sang ayah marah setelah mendengar cerita si anak, dan berkata, “Kamu mengira kamu betul menang? Kamu kalah tapi tidak mengetahui bagaimana kalahnya.”

Si anak bingung 360 keliling, Sang ayah memerintahkan anaknya memikul kayunya, berdua mereka mengantarkan kayu itu ke rumah Pujangga itu dan minta maaf kepada sang Pujangga..
Si Pujangga hanya mengangguk,
tersenyum tanpa bilang apa2.

Dalam perjalanan pulang,  Ahmad bertanya soal ketidak mengertiannya.
Sang ayah menarik napas panjang,
menerangkan,
“Pujangga itu bilang kalau kupu itu sudah mati, baru kamu mau melepaskan kupu itu,
sehingga kamu menang; kalau Pujangga itu bilang kupu2nya hidup, kamu pasti meremas kupu dalam genggamanmu hingga mati, juga kamu yg menang. Kamu mengira Pujangga itu tidak mengetahui alam pikirmu? Beliau kalah sepikul kayu, tapi memenangkan KASIH.
“Cinta kasih yg murni hanya memikirkan kebahagiaan semua makhluk tanpa pamrih, tapi yg EGOIS hanya memiikirkan apa yg aku dapatkan.

Salam damai sejahtera mengalir untuk kita semua.

Salam dan doa…
Dari seorang sahabat untuk para sahabat… 😊

Advertisements