Ada perbedaan dlm cara pandang terhadap uang di kalangan masyarakat Barat dan Timur.
Bangsa Timur lebih tertutup dan pekerja keras.

Hidup dibayangi oleh kecemasan atau tuntutan utk memburu kesejahteraan, bukan hanya utk diri sendiri, tapi juga utk anak , cucu, bahkan cicit bila perlu.
Mereka bekerja keras dan menabung mati-matian utk masa depan keturunan mereka.

Ada lelucun yg terkenal di Tiongkok.
Ada satu orang terkaya di suatu desa di Tiongkok.
Pada suatu hari ia memeriksa keuangannya dan menangis.
Ketika ditanya ia mengeluh,  "Aduh, uangku ternyata hanya cukup utk keturunanku sampai generasi ketiga belas. Bagaimana dgn nasib generasi keempat belas?" Ia tersedu.
Ini adalah lelucun ironi utk menyindir orang2 kaya yg sibuk menimbun harta bagi keturunannya.      

     Apakah di Indonesia ada orang seperti ini? Banyak. 

Bagi kebanyakan orang Timur, bekerja keras sebanyak mungkin mengamankan harta mereka. Agar bila sewaktu-waktu musibah terjadi , anak, cucu, dan cicit mereka bisa hidup lega. Seolah keturunan mereka tdk memiliki kemampuan sama sekali utk eksis mempertahankan hidup. Itulah orang Timur. Dalam kondisi seperti itu, aksi berbagi menjadi kepentingan kesekian. Bahkan, bila perlu tdk dilakukan kalau deposito belum mantap utk anak cucu.

     Masyarakat Barat lbh terbuka pada keuangan. Uang, selain utk menjamin keselamatan hidup mereka, juga dipakai utk membahagiakan hidup mereka. Mereka berlibur. Mereka juga berbagi. Berdonasi telah menjadi budaya yang berakar di sana. Melihat orang lain atau pihak lain yang tertolong, memberikan kebahagiaan yang sama dengan memiliki tabungan banyak. 

Orang-orang Barat juga tidak dipusingkan untuk menyimpan banyak uang demi anak cucu mereka. Pendidikan di sana mengarahkan bahwa setiap individu pastilah akan terbentuk mandiri dan memiliki daya. Setiap orang, jika dididik dengan benar, akan sanggup menggelar kehidupannya sendiri dengan kemandirian. Itu sebabnya, di masyarakat Barat, seorang anak yang sudah berusia 17 tahun dianggap telah bisa memutuskan hal terbaik bagi dirinya. Pada usia 21 tahun, jarang ada anak yang masih tinggal bersama orangtua. "Hey son, go out and build your life!" Itulah budaya Barat.

     Uniknya lagi, orang-orang Barat merasa uang mereka adalah uang yang sudah dikeluarkan. Dan yang masih disimpan bukanlah uang milik mereka. Sementara orang Timur sebaliknya. Uang yang sudah habis dibelanjakan bukanlah uang mereka lagi. Uang milik mereka adalah yang masih tertumpuk di lemari, di bawah bantal, di bank. 

Ini masalah kultur. 

Orang Barat mengAnggap apa yang mereka keluarkan menjadi bagian dari nilai kehidupan. Itu sebabnya mereka suka berdonasi dan membahagiakan diri. 
Bahkan, uang yang mereka sumbangkan pun bagi mereka masih terasa nilainya karena mereka bahagia. 
Orang2 Amerika Mau menyumbangkan uang mereka untuk universitas, badan sosial, dan rumah sakit. Donasi adalah gaya hidup. Bila perlu disumbangkan semuanya. Mereka tak mengkhawatirkan anak-anak mereka, sebab mereka yakin anak mereka bisa tumbuh menjadi orang penuh daya.

     Anyway, kedua karakter itu ada baik dan buruknya. Kita bisa menyerap hal-hal baik dari kultur Barat terhadap uang, dan cara baik orang Timur pula. Saya suka pada komitmen bangsa Timur dengan bekerja keras dan menabung. Ada kesiagaan. Ada sikap menahan diri. Ada toleransi dan kepedulian bagi generasi selanjutnya. Dari bangsa Barat kita bisa belajar tentang keikhlasan berbagi dan sikap untuk tidak diperBudak oleh uang. 

Mereka juga tidak menciptakan malapetaka dengan uang, semisal perebutan harta Warisan.

Kutipan dari buku "Living Sacrifice" DR.Tahir Founder Mayapada Group
Advertisements